PUISI TAUFIK ISMAIL
Kembalikan Indonesia Padaku
Hari depan Indonesia adalah duaratus juta mulut yang
menganga
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang
menyala bergantian.
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong
siang-malam, dengan bola yang bentuknya seperti
telur angsa
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang
tenggelam karena seratus juta penduduknya.
Kembalikan
Indonesia
padaku.
Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main
pingpong siang malam dengan bola telur angsa di
bawah sinar lampu 15 wat.
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan
tenggelam lantaran berat bebannya kemudian
angsa-angsa berenang di atasnya.
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang
menganga, dan di dalam mulut itu ada bola-bola
lampu 15 wat, sebagian putih dan sebagian hitam,
yang menyala bergantian.
Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang
berenang-renang sambil main pingpong di atas
pulau Jawa yang tenggelam dan membawa seratus juta
bola lampu 15 wat ke dasar lautan.
Kembalikan
Indonesia
padaku.
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong
siang malam dengan bola yang bentuknya seperti
telur angsa
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang
tenggelam karena seratus juta penduduknya.
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang
menyala bergantian.
Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang
menganga.
Kembalikan
Indonesia
padaku.
OH BUNDA
Kini aku termenung seorang diri
Di Lab MM yang penuh dengan keramaian
Namun hatiku mulai terintis
Saat ku ingat kamu
Oh…BUNDA…
Lantunan do’a yang selalu engkau panjatka
Membuatku harus bertahan
Kini aku bertahan jauh darimu
Tuk raihkan Cita
BUNDA…
Kemanakah harus aku tuahkan rindu
Kemanakah harusku ku cari cinta dan kasih
Selain dirimu???
Tetes air mata yang teruntai dari mataku
Tak’kan menghapus rasa syangku padamu…BUNDA
Aliran Realisme
Sajak Lagu Kenangan
Senandung itu ku dengar lagi,
Lagu nostalgia masa lalu,
Yang membuka kenangan tempo dulu,
Saat aku dan engkau memadu janji
Untuk selalu bersama,
Gunung Sari,Mei silam,
Diantara rindangnya pohon
Kita menepaki cerita baru
Membuka perasaan untuk berjanji
Seiring sejalan kita bersepakat dalam segala hal
Nyiurpun bersaksi bisu
Tiga tahun sudah berlalu
Kini aku tertdampar seorang diri
Menunggu kedatangan dirimu
Yang tersisa hanyalah sajak lagu kenangan
Dan sejuta kenangan hubungan kita
Dirimu akan selalu akan ada dalam hatiku,Selamnya…
Februari 22, 2008
Februari 2, 2008
Januari 31, 2008